4 tahun Tinggal di Rumah Hantu

Tempat tinggal kami dulu termasuk dalam kawasan yang sepi, terutama pada malam hari. Memang tidak begitu jauh dari keramaian kota Cimanggis, merupakan salah satu kota di Depok. Konon orang bilang Depok adalah tempat Jin buang anak, namun nggak ada sedikitpun ane mempercayai perihal Jin buang anak dalam cerita-cerita orang.

Untuk mencapai rumah kami tersebut masih harus menggunakan Jasa tukang Ojek atau naik motor sendiri, karena belum ada angkot yang melewati daerah kami. Jarak dari Jalan raya Bogor ke dalam memang masih jauh sekitar dua kilometer. Bila agan naik motor, maka akan dengan leluasa melihat keindahan di sepanjang jalan, melewati dua buah tanjakan yang terasa curam. Di Tanjakan ke dua inilah tempat ane dan anak istri bernaung beberapa tahun lamanya. Rumah dengan kiri kanan kesunyian. Sebelah kanan hamparan sawah dari lapangan Golf Emeralda yang belum digunakan oleh perusahaan, sehingga digarap oleh penduduk sekitar. Lengkap dengan jurang terjal dan empang yang bila dilihat seksama lebih menyerupai telaga, apalagi bila malam, tampak hitam pekat.

Di sisi depan dan kiri tempat kami terdapat sebuah tanah kosong. persis di kiri penuh belukar yang semula digunakan sebagai lapangan bulu tangkis yang akhirnya dibiarkan mati begitu saja menjadi rimbunan rumput ilalang. Bila malam hari agan melewati jalanan di depan rumah kami, pasti akan tergerak untuk melihat kesunyian yang mendirikan bulu roma, yang hanya terdengar desau angin dan gesekan rumput ilalang.

Tepat di rumah kami ini, jangan harap agan mendapatkan penerangan jalan dari rumah kami. Meskipun ada beberapa stop kontak dan bekas lampu penerang di depan rumah, tapi tidak pernah lagi kami nyalakan. Mungkin orang akan menuduh betapa pelitnya kami sampai lampu jalan atau minimal lampu depan rumah saja nggak dinyalakan. Itu mungkin pendapat orang yang baru lewat. Mungkin. Tapi bagi penduduk sekitar kampung kami tentunya tidak asing lagi dengan hal gelapnya depan rumah kami. Sengaja kami tidak menyalakan lampu depan rumah karena kami sudah merasa bosan untuk menyalakannya. Kenapa Bosan? Kelak agan akan mengetahui dengan sendirinya nanti.

Rumah ini kami tinggali sejak beberapa tahun yang lalu. Ane bangga menempati rumah dengan desain yang artistik dan terletak di dataran tanah yang cukup tinggi dibanding tanah sekitar, sehingga jika dilihat dari bawah tanjakan, akan nampak seperti Villa di atas bukit.
Rumah ini kami beli dari seorang pensiunan Kolonel Tentara yang pindah karena sesuatu hal. Hari pertama kami menempati rumah ini, seperti lazimnya orang pindahan kami melakukan selamatan dengan mengundang beberapa tetangga. Malamnya kami lewatkan dengan tidur yang pulas karena suasana sekitar rumah memang asri dengan hawa dingin menyejukkan dibawa oleh angin dari padang golf.

Beberapa hari lamanya tinggal di sini tak ada kejadian yang aneh, sampai pada suatu pagi Ane mendapati rokok filter yang baru saja ane beli, hilang secara misterius. Sebungkus rokok itu baru ane hisap satu batang, lainnya masih utuh. Itulah awal mula keanehan yang kami dapatkan. Kalau hilangnya bukan didepan mata ane sendiri, mungkin ane nggak peduli. Toh hanya sebungkus rokok, apa artinya sebungkus rokok yang hilang. Tapi yang membuat Ane penasaran adalah bahwa rokok itu hilang di depan mata ane sendiri, di mana nggak ada seorangpun yang lewat atau pernah bergabung beberapa waktu sebelumnya di sini. Ane anggap hilang begitu saja, dan melupakan kejadian itu, dua hari kemudian Ane dikejutkan dengan kemunculan kembali rokok ane yang hilang tepat di tempat semula. Rokok itu masih utuh, tepat kurang satu batang karena sudah ane hisap sebelumnya. Ane tanya pembantu ane, apakah dia yang sengaja berbuat begitu untuk mengerjai atau menakuti ane, nyatanya bukan dan pembantu ini juga merasa takjub bercampur ketakutan. Lagi-lagi ane anggap bahwa kejadian yang ane alami ini hanyalah kebetulan atau mata ane yang salah lihat.

Ane punya anak kecil, laki-laki yang berusia 1,5 tahun waktu kami baru menempati rumah ini. Nggak ada lain dan bukan, yang dikerjakan anak ane ini nangis tiap hari. Bagi ane mendengar tangis bayi terus-menerus adalah hal yang biasa. Tapi kalau tangis itu berkepanjangan dan tak henti-hentinya, tentulah jadi masalah juga bagi kami.

Kami sengaja memberikan pengasuh khusus pada bayi Kami ini, seorang ibu paruh baya yang cukup rajin dalam mengerjakan sesuatu. Ibu ini sangat tanggap pada apa yang harus dia kerjakan tanpa kami menyuruhnya. Dia mulai bekerja setelah pembantu yang pertama pulang tanpa sebab musabab yang jelas. Kehadiran ibu ini ditengah-tengah kami adalah hal yang istimewa, di mana kami menganggap dia sebagai ibu kami sendiri. Di saat-saat kami mulai dicekam rasa penasaran dan ketakutan dengan kejadian demi kejadian aneh, keberadaan seseorang yang lebih tua dari usia kami adalah anugerah, minimal kami merasa nyaman, terutama dari hal-hal yang aneh. Sikecil pun mulai berkurang tangisannya. Kami lalui hari-hari dengan tenang dan menyenangkan sampai pada suatu saat kami kedatangan orang tua kami.

Tanpa kami sangka-sangka, si Ibu pengasuh bayi ini secara tiba-tiba mengajukan berhenti dari pekerjaannya dengan mendadak. Nggak ada rayuan atau apapun yang dapat mencegah keinginannya untuk berhenti dari kerja di rumah ini. Kamipun tidak dapat berbuat apa-apa selain dari mengikhlaskan kepergian pembantu kami yang bijak ini, walaupun dengan kecamuk pertanyaan yang tidak terpecahkan saat itu. Baru bertahun-tahun kemudian pertanyaan itu terjawab kenapa si Ibu pembantu ini minta berhenti mendadak. Ternyata kami telah dikelabui oleh kekuatan jahat yang akan kami ceritakan lagi nanti, pada bagian akhir kisah ini.

Akhirnya kami mendapatkan lagi pembantu, yang masih belia, namanya Ratih. Berusia sekitar 18tahunan. Terlalu muda untuk ukuran pembantu yang diharapkan dapat mengerjakan segala sesuatunya. Bila pembantu yang lama kami dapat lebih tenang karena faktor usia yang cukup, tapi dengan pembantu yang baru ini kami tidak begitu mengharapkan perubahan yang berarti. Yang penting istri ane nggak terlalu repot lagi.

Walaupun masih muda, lama-lama Ratih dapat menyesuaikan juga dengan keadaan di rumah kami. Tapi itu tidak berlangsung lama. Baru sepuluh hari kerja, Ratih sudah meminta berhenti. “Saya mau berhenti saja Pak, orang tua Saya menyuruh Saya pulang” Demikian kalimat yang diucapkan Ratih saat meminta ijin berhenti dari kami, dengan sorot mata yang ketakutan. “Bukankah mbak Ratih sudah berjanji akan berkerja di tempat kami minimal 2bulan biar kami dapat mencari penggantinya dulu..?” kata Ane mengingatkan akan janji Ratih pada saat kami terima kerja dulu. Ratihpun tidak bisa mengelak, dia surut juga. Memang kami dulu membuat kesepakatan dengan Ratih bahwa minimal kerja di rumah kami selama dua bulan, dan jika mau berhenti harus memberi tahu paling tidak satu bulan sebelumnya agar kami dapat mencari penggantinya sesegera mungkin. Hal itu kami lakukan karena belajar dari pengalaman pertama dengan pembantu kami yang dulu. Perihal alasan Ratih untuk pulang kampung pun ane fikir hanya akal-akalan saja.

Kami lega dan menganggap sudah selesai wacana Ratih untuk pulang kampung. Tapi hari-hari berikutnya setelah Ratih meminta berhenti itu jadi terasa kaku, dia lebih banyak diam. Istriku sering ke kamar Ratih untuk sekedar menghibur Ratih agar kerasan. Kamarnyapun kami pasangi Tivi sendiri agar betah. Kamar Ratih adalah kamar yang dulu ditempati pembantu kami yang pertama. Letaknya agak jauh dari kamar kami, kamar utama yang ukurannya lebih besar, terletak paling belakang di bagian rumah. Dari kamar kami ini dapat melihat langsung ke pemandangan belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon pisang dan petai cina melalui jendela kamar. Dari slot jendela yang sudah berkarat, pertanda bahwa jendela ini sangat jarang dibuka. Baru setelah kami tempati, jendela ini difungsikan lagi.

“Ratih..” “Ratih..!” Teriak istri ane memanggil Ratih, kalau-kalau ketiduran. nggak ada sahutan dari dalam rumah. Ane pun gedor-gedor rumah, tetap nggak ada reaksi, padahal biasanya nggak begini. Biasanya Ratih akan langsung membukakan pintu saat kami baru nyampai rumah. Lama pintu tidak dibukakan, juga nggak ada tanda-tanda kalau Ratih masih melek. Mungkin Ratih memang tertidur di kamarnya. Tapi kamarnya kan dekat dari ruang tamu, bahkan terletak persis garis lurus dari pintu utama, jadi mustahil jika dengan panggilan segitu kerasnya Ratih tetap tidak bangun-bangun juga. Ane ngecek pintu, ternyata nggak dikunci, hanya ditutup dengan pengait slot yang sebenarnya bisa dibuka dari luar, dengan cara menariknya dari lubang jendela samping pintu. Ane menjulurkan lengan dan berusaha meraih slot yang menahan pintu agar dapat dibuka. Alhamdulillah. Pintu dapat terbuka dengan sendirinya. Kamipun masuk dengan menahan gondok dan kesal.

Kami memasuki rumah. Kamar Ratih kelihatan gelap, lampunya nggak dinyalakan. Ane melihat sosok tubuh Ratih yang diam kaku, sama sekali nggak terusik dengan kehadiran kami. “Sakitkah dia?” Fakir ane. Tetap dengan keadaannya yang diam kaku, pintu yang sedikit menganga kami buka lebar. Istriku bertanya “Kenapa kamu diam saja? Dari tadi kami panggil-panggil, kamu kenapa diam saja?” Tidak ada respon, Ratih tetap diam dengan sebagian rambut panjangnya menutupi muka. Muka Ratih nyaris tidak kelihatan, hanya dagunya saja yang kelihatan sangat pucat. Dia bangkit dan terduduk dengan memeluk sebelah kakinya di atas Ranjang. Anak bayiku menangis tiba-tiba. Mungkin karena kesal merasa dicueki, istriku berteriak. “Kamu kenapa diam saja? Apa yang kamu lakukan?!”

Ratih tetap diam, namun tiba-tiba dia menangis dengan suara lantang, lebih menyerupai jeritan. Huah……….ckhdggrkhhh….!! Saya nggak mau tahu urusanmu…! Saya mau bebas..!” Suara itu terdengar sangat keras melengking, memecah kesunyian petang.
“Saya tidak peduli…..!” “Hi hi hi hi hi hi hi…. Hi hi hi hi….” Suara lantang itu berubah menjadi suara tawa. Ya, suara tertawa yang sangat mengerikan. Bulu kuduk ane langsung berdiri, merinding! Istri ane diam saja, mungkin schok dengan jawaban yang baru saja ia terima. Tapi ane menangkap hal yang aneh. Dari pertama kedatangan kami, dan apalagi dengan suara tangis yang tiba-tiba berubah menjadi suara tertawa melengking yang menakutkan. Ane tarik tubuh istri untuk menjauhi tubuh Ratih. Suara tertawa masih melengking-lengking, berpadu dengan tangis anak ane yang makin keras. “Ma, tunggu di sini sebentar. Saya keluar” Kata ane, langsung berlari menuruni tanjakan.

Ane langsung menuju ke tempat pemancingan, di sana ada satu ruangan yang memang digunakan sebagai tempat istirahat pegawai pemancingan sekaligus tempat biasa ane nongkrong. Ada 6 orang bergerombol membentuk lingkaran, mereka sedang main domino. Kaget melihat kedatangan ane yang mendadak. “Ada apa ya Pak?” Tanya Pak Narto yang lagi main domino. Pak Narto ini sehari-hari sebagai pegawai pemancingan yang cukup akrab dengan ane, karena sebelum kami menempati rumah ini pun ane sudah mengenalnya. Setelah ane jelaskan hal kejadian yang baru saja kami alami, semua orang yang ada di pemancingan langsung berlari menghambur ke rumah ane, Istri ane masih ketakutan tapi berusaha menenangkan diri, memeluk sikecil. Orang-orang tercekat melihat pemandangan dihadapannya. Ratih dengan rambut yang masih riap-riapan menutupi mukanya, berputar-putar di atas ranjang, tidak menempel kasur! Ya, Ratih seakan melayang-layang dengan suara tangis dan tawa yang bergantian, memekakkan telinga. Salah satu orang dari kerumunan langsung berinisiatif memanggil orang pintar, agak jauh dari rumah.

Sementara kami tercengang dengan kejadian melayang-layangnya Ratih, tanpa fakir panjang ane dengan Pak Narto dan Mul lalu memegang tubuh Ratih dan menempelkannya ke ranjang. Ane membaca doa-doa dengan suara keras, dan Ratih kelihatan agak melunak. Dua orang memegangi kaki Ratih. “Saya tidak mau anak ini tinggal di sinii!!” teriakan panjang kembali terucap dari bibir Ratih. Ane yakin itu bukan suara Ratih yang biasanya. “Siapa kamu?” Ane berteriak tak kalah kencang. “Saya Kuntilanak..!!!” teriak bibir Ratih yang sudah berubah putih pucat, Ane tercengang, bergidik. Kaki dan tangan terasa dingin banged. Ane lepaskan pegangan pada tubuh Ratih, sambil membaca ayat Al fatihah! Dengan tatapan nanar Ratih memandang kearah Ane dan berucap. “Ha ha ha aha ha… baca aja terus..!” Ane terdiam. Istri ane sudah mulai tenang, mungkin sudah menyadari apa yang sudah terjadi dihadapannya. Dia membaca ayat kursi, orang-orang ikut membaca ayat kursi, tapi Ratih semakin lantang tertawa. “Jangan baca ayat kursi, baca surat Yasin!” Istri ane pun langsung membaca Surat Yasin, namun belum selesai istri ane membaca surat Yasin, si Ratih sudah “berubah” kembali menjadi Kuntilanak dan berteriak “jangan begitu bacanya.. kamu Salah!! Ambil Alqur an, bacakan Yasin secara benar..!”
Bersamaan dengan itu Paranormal atau orang pintar yang dipanggil Mul datang. Paranormal langsung melakukan Sholat di ruang tamu, dan istri ane mengambil alqur an. Membacanya dengan terburu-buru karena mulut Ratih tetap meracau tidak karuan….

Paranormal melakukan sholat berulang-ulang hingga akhirnya Ratih bisa kembali sadar. Malam itu kami nggak berani tidur, sepanjang malam ane jagain pintu kamar karena istri ane ketakutan.

Paginya mbah Gimar/nama paranormal itu datang dan menjelaskan pada kami bahwa si Ratih harus dipulangkan hari itu juga karena ternyata Ratih termasuk gadis Bau lawean, konon gadis bau lawean akan selalu dirasuki setan atau arwah penasaran, terutama jika tinggal di tempat angker.

Sebenarnya ane dan istri sudah nggak kuat berlama-lama tinggal di rumah ini, apalagi kondisi si kecil yang selalu nangis terus tanpa sebab yang jelas. Tapi apa mau dikata, ane bukan orang kaya yang bisa pindah-pindah rumah kapanpun dia mau. kami tetap bertahan. kejadian demi kejadian kecil terus kami alami, termasuk sumur pompa yang selalu mati. sudah berpuluh kali didatangkan ahli sumur tetap saja begitu. dan bisa mengalir normal setelah kami sediakan sajen bubur merah bubur putih atas saran sesorang yang kami anggap “mengerti”

Hari berganti hari, kami seolah melupakan kengerian yang sering kami alami. karena saking terbiasanya kami menjadi kebal akan gangguan “mereka” dan sadar bahwa memang ada hantu di rumah kami. kami nggak heran bila agan main ke rumah kami, meskipun siang hari, tiba-tiba lari terbirit-birit karena melihat “sesuatu”. kebanyakan sih bentuk kuntilanak dan pocongkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk yang sering berdiri di atas tangga untuk menuju ke lantai atas/dak.

Pernah suatu ketika ane menonton siaran TV di malam hari, padahal kondisi sedang mengantuk tapi ane nggak mau tidur karena Ane takut akan bermimpi buruk. Memang posisi TV di ruang tengah, sedangkan anak istri tidur di kamar. Jadi, ane seorang diri menonton tivi. Mungkin saking lelahnya Ane tak bisa menahan kantuk. Ane tertidur dan nggak ingat apa-apa, tahu-tahu terbangun dan di hadapan ane sudah berdiri pucat, sosok putih dengan kedua mata berbalut kapas. pocongkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk yang tergantung di bawah tangga, persis di depan ane nonton TV.

Pada bulan ke sebelas kami menempati rumah ini, tepatnya seminggu pada bulan ramadhan, ane browsing di depan monitor sambil menunggu waktu sahur tiba. Seperti ada sebuah kekuatan yang menarik leher Ane untuk membalikkan tubuh dan menengok ke belakang. Ane terperanjat, hampir tidak percaya dengan yang ane lihat. Keramik di depan kamar ane bergerak-gerak membentuk gelombang. Seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari bawah lantai keramik. dengan memberanikan diri, Ane datangi keramik yang masih bergerak-gerak itu lalu Ane tepuk dengan telapak tangan dan terhenti.

Siangnya ane cerita ke tetangga dan atas saran tetangga, didatangkanlah seorang juru kematian yang biasa dipanggil pak Amil/lebai. Pak Amil sholat di dekat lantai keramik yang semalam bergerak-gerak sendiri. Dengan khusuk pak Amil duduk bersila seolah menerawang sesuatu. Terkuaklah suatu rahasia yang mungkin selama ini ditutup rapat oleh penjual tanah tempat rumah ini berdiri, bahwa dibawah rumah ini adalah kuburan. ada tiga mayat yang dikubur di sini, tepatnya di depan kamar utama(kamar ane dan istri). Akhirnya hari itu juga keramik digali dan ternyata memang masih ada jenasah2 hancur yang sudah menjadi tanah dan kami pindahkan ke pemakaman umum kampung, persis selayaknya menguburkan jenasah. diakhir kisah ini nanti, terkuak lagi kebenaran cerita bahwa ternyata nggak hanya 3 jenasah yang dikubur di tanah sebelum dibangunnya rumah ini, melainkan ada 13 (tigabelas) jenasah.

Jika mendengar cerita ada tukang ojek yang membawa penumpang lalu penumpang itu turun di depan rumah kami, jangan heran karena karena seringkali itu adalah arwah penasaran yang berulangkali mengerjai para pengojek. Bahkan ada yang sampai pingsan di pinggir jalan. Sebenarnya jauh sebelum banyak kejadian aneh, banyak tukang ojek yang memberitahu bahwa rumah yang ane tempati berhantu, tapi waktu itu ane nggak percaya.

Hanya di rumah ini pula ane bisa ditemui menjadi dua orang, padahal ane nggak punya saudara kembar. Nanti ya, ane ceritakan lagi disambungan kisah ini. Ane udah ngantuk dan persiapan tidur dulu karena sudah lumayan ngantuk.

Proses pemindahan jasad-jasad yang sudah menjadi tanah itu dilakukan oleh beberapa orang, hadir pula pak RT yang akhirnya mengiyakan dan tak bisa lagi menutupi misteri sebenarnya akan rumah berhantu ini. Selesai pemindahan kuburan malamnya kami melakukan tahlil dengan mengundang hampir seluruh warga di lingkungan RT. Tahlil dilakukan selama tiga malam. lega sudah hati ane, seolah lepas dari batubesar yang menghimpit dada. Ane berharap bahwa teror-teror hantu yang melingkari kami selama ini akan berhenti setelah kami perlakukan mereka seperti saudara kami sendiri dengan prosesi selayaknya pemindahan kuburan. Selama beberapa waktu lamanya tak lagi terjadi hal-hal di luar nalar. Mertua ane sengaja datang dari Jawa timur untuk menemani kami.  Ane berfikir bahwa keadaan sudah kondusif dan terlepas dari pengaruh setan, Tapi hari kelima Mertua bersama kami, tiba-tiba pembantu kami memohon untuk berhenti dari kerja. Serasa sesak dada ane saat mbok Darmi mengutarakan niatnya. Ane diam saja, dan melihat wajah mbok Darmi, nampak pucat dengan mata sembab seperti habis menangis. “Ibu habis menangis?” tanya ane penasaran. “Enggak pak, Saya memang sudah nggak betah” mbok Darmi sesenggukan. “Saya nggak enak sama mertua Bapak” kata mbok Darmi.

Akhirnya kami pun merelakan mbok Darmi berhenti kerja. Otomatis si kecil lebih sering bersama dengan Ibu mertuaku, karena istri ane siangnya harus kuliah di Depok. Memang istri ane masih usia 21 tahun ketika itu. Ane nggak terlalu mempersoalkan dengan berhentinya mbok Darmi, namun yang menjadi masalah adalah ibu mertua ane nggak bisa lama-lama menemani kami, hanya satu bulan saja beliau pulang. Mau nggak mau ane kelimpungan. Ane datangi lagi mbok Darmi untuk bekerja di rumah kami, tapi dia menolak secara halus. Ane desak tetap nggak mau, mbok Darmi malah cerita bahwa sebenarnya ia berhenti karena pernah dipelototi oleh Ibu Mertua ane, dan diusir mentah-mentah. kejadiannya di dalam kamar. Ane telepon mertua ane, beliau bersumpah atas nama Tuhan bahwa tak pernah satu kalipun ke kamar mbok Darmi itu, apalagi sambil memelotot. Ane merasa nggak enak, mulai terasa ada keganjilan lag. Merinding. Tapi ane pendam begitu saja karena takut istri ane panik.

Beberapa hari kemudian kami mendapatkan pembantu baru, namun dia nggak bisa nginap di rumah kami. Pembantu baru kami ini bernama Romlah, asli sunda. dia memiliki seorang anak usia 5tahun tapi sanggup bersih-bersih rumah seadanya dan tugas utama mengasuh anak kami. Daripada kosong tanpa pembantu, kami terima saja. Pada hari kedua dia bekerja, si anak ikut dibawa karena neneknya lagi ada keperluan. Jam 8 pagi Romlah datang bersama anaknya yang masih kecil itu, Romlah langsung bersih-bersih rumah sedangkan sianak bermain sendiri di bawah tangga. Belum ada setengah jam Romlah bekerja, anaknya menjerit dan memaksa untuk pulang, “Pak, Saya pulang dulu, nanti saya datang lagi” Pamit Romlah. Ane hanya mengiyakan, nggak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal. Lama Romlah pergi mengantar anak, ditunggu-tunggu nggak datang juga. ketika ane bersama istri menjemput ke rumahnya, Romlah meminta untuk berhentii bekerja, lebih tepatnya membatalkan kerja pada kami. Agan-agan dan aganwati, apa yang telah terjadi? Setelah ane desak, Romlah mengaku bahwa anaknya tadi cerita, melihat pocongkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk yang loncat-loncat di atas tangga rumah ane. Kondisi anak Romlah bahkan masih panas.

Hari-hari selanjutnya kami lalui hanya bertiga, yaitu Ane, istri dan anak kesayangan kami, Pijar. kami menjalani hari-hari seperti biasa, berusaha melupakan segala yang terjadi biarpun pada kenyataannya tetap saja tegang. Hampir tiap malam bulu kuduk kami meremang, ditambah hawa lembab yang dibawa oleh angin padang Golf semakin membuat kami larut dalam ketakutan. tapi sekali lagi, ane harus dapat menguatkan diri, apalagi di depan istri ane. karena kalau ane udah nunjukin rasa takut ane, istri ane tentu lebih takut lagi dan merasa nggak ada yang melindungi.

Apabila petang menjelang, pasti akan terdengar suara orang mengaji dari MP3 yang sengaja ane setel agak kencang. Lumayan, sedikit menurunkan tensi ketegangan kami. Dari teman-teman di kantor tempat ane bekerja, sebuah institusi negeri, didatangkan 3orang paranormal. Tapi tetap tidak ada perubahan yang berarti. Suatu hari, anak kami mengalami panas demam. obat dari dokter sudah diminumkan tapi suhu badan tetap naik turun nggak stabil. Ane pusing Gan. Hari itu kami bergantian mengompres sikecil dengan air hangat, menjaga agar tidak sampai terjadi step. Kami bikin semacam jadual piket. Satu jam ane yang ngompres, satu jam lagi gantian istri ane. Begitu seterusnya. Sampailah pada saat ane dibangunkan paksa oleh istri, padahal masih jam ane tidur.
“Pa, suhu badan pijar tinggi lagi.. aku takut..” kata istri ane.

“Ya sudah, kita melek berdua saja” tukas ane sambil melihat sekeliling. Kamar utama kami letaknya paling belakang, bersebelahan dengan sumur yang sudah lama nggak dipakai. Tepat di samping kamar, terdapat Jendela Nako yang mengarah ke lapangan golf. dari jendela ini kami dapat melihat pemandangan di belakang rumah. Ane memandang sekeliling, perasaan ane nggak enak banged.
“Bentar ya ma..” kata ane lalu keluar kamar dan menuju jendela, mengecek keadaan sekeliling. Ane terperanjat. Ada sesuatu, tampak jelas bayangan di depan ane, tepat disamping jendela. Ane serasa mimpi. Seseorang tampak duduk membelakangi ane, dengan rambut panjang sepunggung dan pakaian yang juga panjang.  Hawa dingin yang menusuk membuat ane bergidik tapi ane coba menenangkan diri.
“Maaf, ibu Siapa?” keluar juga suara dari mulut ane.
“Ibu siapa?” nggak ada jawaban. Sosok itu menggerakkan kepala tapi tetap membelakangi ane, terdengar lirih “Saya suka dengan anakmu”.
“Tolong ibu pergi dari sini, jangan ganggu anak Saya.” Namun Si Ibu misterius itu tetap diam tak bereaksi. Menyadari kalau anak ane dalam bahaya, ane mengambil ember berisi air yang kebetulan ada di dekat ane. dengan menahan keringat dingin dan juga rasa takut, ane siramkan air dalam ember ke sosok itu, sambil terus berdoa sebisa ane. Secara tiba-tiba si Ibu berambut panjang itu menghilang. Dengan lunglai ane kembali masuk kamar. Alhamdulillah suhu badan anak ane sudah normal. Namun sampai pagi kami nggak berani tidur. Ane bersyukur suhu badan sikecil tetap stabil dan langsung sehat.

Ketakutan yang menyenangkan dalam hidup adalah manakala kita sudah bisa menikmati rasa takut itu. Menikmati karena keterpaksaan maupun sengaja pasrah pada bahaya sebab memang tidak ada pilihan lain. Meski rasa takut itu sering menyerang sedikit keberanian dalam diri ane, tapi kembali lagi kepasrahan akan situasi yang sangat sulitlah yang membuat bahaya tak lagi terfikirkan. Rumah ini bagaikan penjara yang nyata bagi kami. Adanya 3 kuburan di depan kamar utama kami saja sudah cukup mengintimidasi nyali istri ane. Tapi toh tetap ane kuatkan dengan segala cerita indah dan kekuasaan Tuhan yang nggak akan mungkin bisa dikalahkan oleh setan. Meski sebenarnya menolak, banyak keganjilan yang sengaja ane sembunyikan dari istri. Semata demi mempertahankan keberanian diri kami. Meski ane juga harus membohongi diri sendiri.

Ruangan paling aman dalam rumah kami adalah kamar utama. Rasanya begitu jengah bila kami duduk di ruang tamu ataupun ruang tengah, kecuali ketika ada orang lain atau Tamu yang kebetulan singgah ke rumah kami. Saat ini, dua kamar dengan ukuran besar-besar praktis kosong. Kamar depan sedianya kami khususkan buat kamar Tamu, dan kamar tengah untuk pembantu, Tapi sejak kami tak memiliki pembantu lagi, kamar itu kami biarkan kosong. Sedangkan kamar tamu lebih mirip sebagai gudang dengan berbagai macam barang yang ditaruh di sana. Keduanya sama-sama gelap. Ane malas mencari pembantu lagi, karena malas melihat intrik yang akan terjadi dengan mereka. Praktis dua kamar kosong ini semakin nggak terjamah oleh kami. Dua kamar ini sebenarnya bersebelahan, tapi terpisah oleh Kamar mandi. Sebuah Kamar mandi yang aneh menurut ane. Karena dalam kurun waktu yang nggak begitu lama, satu tahun semenjak ane rehab keseluruhan rumah, ubinnya sudah ngelotok tanpa sebab apa-apa. dan lebih aneh lagi, ubin yang terbuat dari keramik pucat itu menyembul terangkat. Lambat laun keramik ini terkelupas dengan sendirinya.

Keadaan sudah sangat senyap ketika ane mulai berkemas. Pekerjaan memaksa ane untuk berangkat malam-malam. Ane tengok istri dan anak ane, sudah tertidur hampir dua jam yang lalu. Ane tak tega membangunkan mereka. Ane kaget ketika terdengar suara byuuurr… byurr…. suara air yang jatuh seperti seseorang sedang mandi, berasal dari arah kamar mandi tamu. Ane ke kamar mandi depan, tapi nggak ada siapa-siapa. “Sudah jelas..” batin ane bergumam sendiri. Sebenarnya ane gondok banged dengan kondisi kamar mandi tamu yang selalu gelap, dan ane Bosan mengganti bohlamnya. tiap minggu maunya diganti terus lampu itu, atau memang nggak mau terang? kutuk ane dalam hati.

Lagi-lagi ane harus melewati kondisi gelap di teras rumah. seperti halnya kamarmandi, lampu di teras ini juga tak pernah berumur lama. dia hanya mampu bertahan seminggu atau paling lama dua minggu sampai ane Bosan menggantinya terus. Hawa dingin berdesir mengusap leher ane ketika keluarkan motor melewati pagar rumah, Sunyi sekali. Lampu teras rumah sudah lama mati membuat gelap yang ada semakin pekat. diiringi desau angin, ane berangkat

Ane pacu motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi. tapi seolah motor ane terasa berat. setengah perjalanan menuju Kedunghalang Bogor, melewati Lampu merah Pemda Cibinong. Jalanan sepi, hanya tampak aspal yang mengkilap bermandi gerimis. hanya satu dua angkot yang nampak kelelahan menembus malam. Ketika tiba-tiba di depan ane ada seekor kucing besar menyebrang jalan, ane tak lagi bisa menghindarinya, tak bisa lagi mengendalikan motor ane untuk tidak menggilasnya. “Beerrdddh” terasa sekali tubuh kucing yang besar itu tergilas ban motor ane. Ane langsung injak rem dan CCiiiitt. Ane turun dari motor. beberapa tukang ojek yang mangkal di seberang menghampiri ane, ane terus mencari kucing itu, kucing yang ane tabrak barusan. aneh. Kucing itu tidak ada! “Pak, tadi lihat kan kucing besar menyebrang jalan?” tanya ane pada salah satu Ojek di dekat ane. “Ya pak, ada tadi.” Jawab tukang Ojek. “Terasa banged tadi kena ban motor ane, tapi kok nggak ada bangkainya ya?” tukas ane. Gimana ya Pak? Tanya ane lagi, tapi tukang-tukang ojek itu juga nggak bisa njelasinnya.

Ane melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya membuang Uang kertas limaribuan ke tengah jalan, dengan maksud sebagai tolak balak atas kejadian tadi. Baru beberapa saat motor ane bergerak, di depan sebuah mobil carry yang berhenti dengan beberapa penumpang menyetop ane sambil bertanya “Pak tadi nabrak Kucing juga?” Ane berhenti. “Kok Bapak tahu?” tanya ane.
“Iya pak, karena kami juga menabrak kucing besar” Jawab orang itu sambil memperhatikan ane
“Tadi sudah Saya cari Pak, tapi nggak ada”
“Nggak ada?”
“Ya, sama sekali nggak ada”
“Aneh ya Pak..”

Alhamdulillah sampai di Bogor tidak terjadi apa-apa. tugas dapat ane kerjakan dengan sedikit perasaan yang nggak enak. Gan, ane merasa seperti diikuti seseorang, atau mungkin sesuatu. baru setelah ane ingat-ingat lagi, dalam perjalanan setelah dari Lampu merah Pemda, dua kali atau mungkin tiga kali disalip oleh mobil yang sama. ketika melewati tikungan menuju ke tempat kerja ane, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul, sehingga hampir terkena motor ane. dan anehnya, wajah laki-laki itu seperti pernah ane kenal.. tapi entah di mana. sekarang ane ingat, ya! laki-laki itu mirip dengan orang yang serombongan mobil berhenti dan menanyakan perihal Kucing. Bahkan bukan mirip, ane yakin kalo itu orang yang sama. Udahlah, mungkin hanya kebetulan saja. Demikian batin ane menenangkan diri.

Paginya, sebelum subuh ane tinggalkan Kedunghalang untuk pulang ke Cimanggis. Rasanya semalam itu perjalanan yang lama dan melelahkan. Hati-hati ane pacu sepeda motor dengan kecepatan sedang, bahkan cenderung lambat. terasa berat seolah seribu beban menghimpit di benak ane. Melewati Pom Bensin Kandangroda, ane mampir sebentar bermaksud mengisi bensin. semalam ane sampai lupa untuk isi bensin gara-gara kucing sialan itu.

“Berapa liter Pak?” Tanya petugas bensin sambil menyorongkan alatnya.
“Penuhin aja deh” Jawab ane.
Lalu si petugas Bensin mengucurkan alatnya, mengisi tangki motor ane sampai penuh.
Selesai membayar bensin, motor ane starter dan “Gruennggg… Gruengggghhh” Motor ane gas tapi roda motor ane tetap diam. Terhenti. Ane Gas lagi lebih kencang, tidak reaksi apa-apa. Motor ane tetap diam seolah ada yang mencengkram.
Berkali-kali ane geber itu motor, tetap diam. Roda motor seakan terpaku pada lantai Pom Bensin. Beberapa petugas Pom bensin mencoba mendorong motor ane, hasilnya sama saja.

Satpam yang sedang bertugas mendekat dan ikut mencoba motor ane. Tapi tetap tidak bisa. Ane bingung, mereka lebih bingung lagi. Akhirnya sepeda motor ane titipkan pada Satpam Pom Bensin. Ane minta nomor telepon Petugasnya, lalu ane pulang dengan menumpang Metromini arah Kampung Rambutan.

Sesampainya di rumah, Istri ane cerita bahwa sepanjang malam, di dalam kamar istri dan anak ane nggak berani keluar kamar. Mereka terbangun ketika lewat tengah malam, anak ane menangis terus seolah-olah melihat sesuatu, sementara dari luar kamar tidur terdengar suara HP mainan anak ane yang berbunyi terus, tang teng tong tang teng tong… nggak ada habis-habisnya. Dan suara HP mainan itu berhenti setelah menjelang pagi.

Beberapa hari kemudian ane ceritakan kejadian itu pada seorang Ustad yang kebetulan mengerti dan bisa berkomunikasi dengan Gaib, dari ketika ane menabrak kucing besar sampai motor ane yang ngadat secara tiba-tiba tanpa sebab. “Itu bukan kucing yang kamu tabrak!” Kata Pak Ustad
“Hah?” Suara ane
“Semua saling berkaitan, Mereka tinggal di Rumahmu Juga.”

Ane terdiam, Lunglai. Ane nggak ngerti dengan semua yang Ane alami ini. Apa kesalahan ane dan keluarga Ane sampai-sampai harus terjebak dalam kemelut yang tak ada ujung dan pangkalnya, terjebak di rumah hantu. Kata-kata dari pak Ustad beberapa waktu yang lalu membuat ane bergidik. sebegitu parahkah rumah ini, sampai-sampai penghuni gaibnya ikut campur dalam urusan ane di luar rumah. pantas saja orang-orang sebelum ane nggak bertahan lama tinggal di sini, paling lama dari mereka hanya satu setengah tahun. Ane harus menyalahkan siapa? penjual rumah yang telah ane beli? menurut Ane dia tidak bersalah karena dia juga merupakan korban dari ketidaktahuan. Kondisinya ketika meninggalkan Rumah ini juga sudah cukup menggambarkan betapa menderitanya selama hidup dan tinggal di Rumah ini, meski ditutup-tutupi. Dan Ane memang minat dengan rumah ini. Jujur saja, ane sangat suka dengan model Rumah ini. Suka dengan bentuknya, suka dengan keasrian dan lingkungan pemandangan alamnya.

Memang pertama kali ane datang bersama perantara yang menawarkan rumah ini, Saat melihat keadaan rumah waktu itu ketika malam, ane sempat merinding. Entah oleh sebab apa. Tapi Ane buang jauh-jauh perasaan itu.
Akhirnya Rumah ini ane beli dengan harga yang sangat murah bila dibanding dengan apa yang ane dapatkan. Harusnya ini jadi lampu merah atau tanda tanya buat ane untuk nggak melanjutkan pembelian, setidaknya curiga. Karena rasanya nggak wajar. Selain mendapatkan Rumah ini, ane juga mendapatkan seluruh isinya. Si pemilik pergi hanya dengan membawa pakaiannya saja. Seandainya ane tidak membawa barang apapun dari tempat tinggal ane yang lama, peninggalan dari si penjual rumah ini saja sudah sangat cukup untuk memenuhi sekedar keperluan rumah tangga kecil. Televisi, Kulkas, 3 set tempat tidur lengkap dengan bantal-bantalnya, 2 Lemari, 3 set meja kayu jati antik, dan lain-lain. Ane tidak sempat berfikir bahwa barang-barang ini juga telah menjadi media bagi para setan dalam melaksanakan pestanya di kegelapan sepanjang malam, di kelak kemudian hari.

Ada yang ane Suka dari barang-barang itu, terutama satu set meja di ruang tamu. Memiliki bentuk yang dapat menarik orang yang melihatnya. dia seakan mengandung magnet magnet untuk seseorang memilikinya. Bentuknya antik, mirip dengan kursi-kursi tua pada bangsawan-bangsawan kuno. dengan ornamen ukiran pada lengan dan badan kursi itu. Di kursi inilah kemudian sering terlihat seorang nenek kebaya merah dan sanggul besar di kepalanya, sedang duduk termangu seolah ada seseorang yang ia tunggu.

Semilir angin dari arah lapangan Golf Emeralda menyejukkan membawa nyanyian alam. Derunya Terasa dingin lembab menyentuh kulit tubuh Ane. Sangat melenakan, membuat lamunan terasa nikmat di siang itu. Fragmen-fragmen dari perjalanan ane ke sini, silih berganti berebut tempat di kepala ane. membuat sulit untuk ane pejamkan mata dan tertidur biarpun hanya sekejap. Galau ane semakin bertumpuk dengan bertubinya masalah demi masalah yang ane hadapi. Entah ada hubungnnya dengan rumah ini atau hanya kebetulan saja, yang jelas ane merasakan kemunduran semenjak ane tinggal di rumah ini. Ane nggak bisa menyalahkan orang yang menjual rumah pada ane, karena dia memang bertindak demi keselamatannya sendiri, dan tentunya wajar bila dia menutupi semuanya. Kembali fikiran ane melayang ke mana-mana, sebelum akhirnya ane mencium bau wangi yang menyergap kesadaran ane. Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba, telah membuat lunglai persendian ane.

Ane paksakan menuju kamar, lalu Ane baringkan tubuh di kasur, istirahat. Seketika kelambu tempat tidur ane berubah menjadi putih dan bergerak-gerak lalu menutup dengan sendirinya. nampak sebuah wajah cantik putih dengan rambut panjang putih berkilauan Lengannya terbuka di antara kain berwarna perak ditubuhnya. Dia mendekatkan telapak tangannya dan meraih bahu ane. terlihat ikat kepala di atas keningnya, lebih mirip mahkota berwarna perak. kuku-kukunya panjang dan juga berwarna putih perak menyentuh kulit ane. Ane seakan terlena dan terbuai, atau memang ane sudah dalam pengaruh rasa kantuk yang berlebihan. Perempuan di depan ane mendekap lalu menindih tubuh ane, tapi kemudian kesadaran ane kembali pulih. Entah dari mana tiba-tiba muncul kekuatan yang mengarahkan ane untuk mendorong tubuh perempuan itu menjauh dari ane, wajah perempuan itu berubah marah dan lalu seolah wajah itu tersayat dari dalam dagingnya dan nampak kulit wajahnya retak-retak oleh semacam luka. Dari luka-lukanya mengeluarkan darah yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Ane pejamkan mata dan berharap untuk segera sadar bila ini hanya mimpi. Tapi tetap nggak bisa, pemandangan itu tetap terpampang di depan ane, bahkan leher ini seperti kaku nggak bisa bergerak. Ane teriak-teriak dengan melafalkan ayat-ayat suci yang biasa ane bacakan ketika ane dalam rasa takut, suara ane tak bisa keluar, tertahan.

Ane baca berulang-ulang ayat-ayat itu sampai akhirnya kelambu di tempat tidur ane kembali berwarna biru muda dengan posisi yang membuka seperti awal ane merebahkan diri. Masih tercium bau wangi, dan amis. Wangi yang menyengat seperti bau bunga kematian. ane ingat pernah mencium bau seperti ini dulu di kampung, ketika ada tetangga ane yang meninggal, biasanya dipakaikan bunga-bunga yang bercampur-campur hingga tidak jelas lagi bau wanginya. Ane gosok-gosok mata ane, dan berharap kalau yang terjadi tadi hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Benarkah hanya mimpi? Bau bunga dan amis masih sangat menyengat menusuk hidung ane. Ane lihat jam di HP, baru 3 sore. Ane sapu pandangan ke sekeliling, nggak ada sesuatu yang mencurigakan selain dari bau bunga yang tetap menyebar di ruang tidur. Ane keluar kamar, lalu menyusul istri dan anak ane yang main ke tetangga sejak siang tadi. Kengerian tadi nggak ane ceritakan pada istri ane, karena ane nggak ingin istri ketakutan. Menjelang magrib Ane putar MP3 orang mengaji dari komputer, suaranya mengalun dan memupuk kembali keberanian ane.

Pagi buta ane sudah berkemas untuk berangkat kerja ke Bogor, semua sudah rapi kecuali HP ane. HP yang semula ane taruh di atas meja nggak satupun yang kelihatan. “Ma, lihat HP Saya nggak?” tanya ane pada istri, “nggak tahu Pa” jawabnya. Ane desak istri ane sampai-sampai dia sumpah bahwa dia nggak tahu dimana dua HP ane berada. Kami mencarinya keseluruh ruangan dan HP itu tetap nggak ada. Dengan menggunakan HP istri, Ane coba miscall Nomor HP Ane. Masih ada nada sambung. Ane berfikir bahwa HP itu mungkin dicuri orang, ane cek lagi ke seluruh ruangan. Nggak mungkin dicuri orang. Semua engsel nggak ada yang rusak dan semua pintu dari semalam terkunci rapat. Ane coba lagi telepon, tetap tidak diangkat meski ada nada sambung. Akhirnya Ane anggap kedua HP itu sudah hilang. HP Nokia ketupat yang waktu itu masih baru-barunya keluar, dan Sonyericsson K750i (sampai saat tulisan ini diketik, HP-HP itu tetap tak ditemukan. Ketika besoknya TS Coba telpon lagi, diangkat tapi hanya suara gemuruh dan perempuan cekikikan .Red.)

Jam 6.30 wib motor ane sudah merayap di pelataran kantor tempat ane kerja. Setelah memarkir motor, Ane buka kancing Jaket kulit dan bersiap menuju ruangan ane, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan teman kerja ane. “Bang, awas Ular!!” begitu teman ane dengan suara tinggi. “Mana?” tanya Ane sambil mata ane memandang ke sekeliling berusaha mencari ular yang dimaksud.
“Tenang.. tenang Bang… tenang. Diam saja di situ.” sambungnya.
“Kok?” Ane bingung.
“Itu Ularnya di jaket Abang”
“Masya Allah… Kok bisa sih?”

Lalu dengan bantuan teman ane, Ane copot jaket kulit ane. Rupanya ada Ular belang yang ada di dalam jaket ane, dan hanya kepalanya saja yang nongol kelihatan dari luar jaket, sementara badan ular itu masih berada di dalam Jaket ane. Sungguh aneh Gan. Tapi, ini benar-benar terjadi. Entah sejak kapan ular itu berada di dalam jaket Ane.

Ane menghabiskan kerja di hari itu dengan perasaan yang nggak karuan. Teman Ane yang lain bilang, bahwa dia memiliki teman yang ahli dalam mengusir gangguan di dalam rumah yang angker atau berhantu. Konon, temannya ini sudah biasa dipanggil oleh para pejabat untuk urusan suprnatural. Ane pun setuju untuk dinetralisir rumah ane, siapa tahu memang paranormal ini benar bisa, dan rumah ane bisa dibebaskan dari Hantu.

Sore harinya, rombongan paranormal datang. Mereka meminta disediakan garam kasar untuk sarana mereka mengusir Hantu. Orangnya masih cukup enerjik dan muda-muda, mungkin sekitar 36 tahunan. Seorang diantara mereka yang paling tinggi tubuhnya menyebar garam ke seluruh ruangan. “Bapak, ibu.. Rumah ini merupakan pusat atau tempat bermain dan pertemuan dari hantu-hantu di sekitar daerah sini. Tadi sudah kami usir dan kami pagari rumah ini, mudah-mudahan sudah tidak berani ke sini lagi.” Kata paranormal itu setelah selesai menjalankan ritualnya.
“Mereka bisa diusir Pak?”
“ya, mudah-mudahan Pak.” jawab sang Paranormal. Mereka pun pulang sebelum Magrib.

Malam Harinya, Anak ane menangis terus. Bergantian ane dan istri ane menggendong si kecil, tapi tetap saja anak kami terus menangis sambil menunjuk-nunjuk ke sudut ruang belakang. Ia terus menangis. Ane memandang ke sudut ruang belakang, berharap melihat keganjilan ataupun penampakan setan yang telah membuat anak ane menangis. Tapi hanya gelap, pekat. Tidak ada apa-apa di sana. Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa di depan ane terdapat sesuatu makhluk ataupun hantu yang nggak bisa Ane lihat, Ane keluarkan kalimat-kalimat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan orang lain, ini sering Ane lakukan dan biasanya anak Ane kembali tenang.
“Tolong jangan ganggu anak Saya ”
“Tolong pergi dari sini”
Tetap nggak ada reaksi apa-apa. Anak Ane masih menangis.

Istri ane yang menggendong si kecil nampak kelelahan. Lalu istri ane secara spontan membacakan ayat-ayat alqur’an. Si kecil terdiam, berhenti menangis. Entah berhenti menangis karena sudah capek atau memang sang pengganggu sudah pergi. Kami pun lega. Ane ajak istri ane masuk kamar utama untuk ketenangan. Tapi baru saja kami buka pintu, terdengar air mengalir dari kran kamar mandi tamu di arah depan. Istri ane ketakutan. Beberapa saat setelah itu lampu ruang tengah dan lruang tamu tiba-tiba padam.
Kami tetap masuk ke dalam kamar. “Tenang aja Ma, nggak usah Takut.” Ane coba menenangkan istri ane walaupun sebenarnya ane sendiri juga takut. Takut kalau hantu-hantu itu marah dan sengaja membuat ulah karena kedatangan tiga paranormal tadi sore.

Hingga hampir tengah malam ane nggak tidur. Suara air mengalir dari kran masih terdengar, suara yang nggak seberapa keras tapi seakan memekakan telinga ane. Jarak antara kamar mandi tamu dengan kamar utama kami sekitar sepuluh meter tapi suara aliran kran sungguh sangat mengganggu. Air itu akan terus mengalir sebelum tabung penampungan air di atas habis. “Ini tak bisa dibiarkan” gerutu Ane dalam hati, kesal. Lalu Ane bangkit dan bermaksud mematikan kran di depan, melewati gelap ruang tengah. Ane coba tekan stop kontak untuk menyalakan lampu, tapi lampu tetap padam dan nggak mau nyala. “Berarti cuma kebetulan lampu ini konslet…” bisik ane dalam hati. Lalu Ane menuju Kamar mandi dan mematikan kran itu.  Sepanjang ane melewati ruang depan dan ruang tengah, bulu kuduk ane merinding dan setiap gerakan ane seolah ada yang memperhatikan ane. Terdengar suara berderap gaduh, seperti suara ramai bocah-bocah yang sedang kejar-kejaran, berlarian menjauhi ruang tamu. Di luar terdengar anjing melolong dengan suara yang nyaring, membuat bulu kuduk Ane berdiri. Ane singkap gorden jendela depan, berusaha melihat ke luar rumah. Sepi senyap. hanya suara lolong anjing yang semakin lama semakin memilukan, lirih, dan hilang.  Ane merasa banyak mata yang memperhatikan Ane, ane merasa diawasi. Ane merasa sia-sia dengan memanggil ketiga Paranormal yang datang sore tadi. Antara marah, sedih dan kalut. Entah berapa paranormal yang pernah kami panggil untuk mengusir hantu-hantu itu. Pada kenyataannya selalu manjur di depan saja, dan hantu tetap meneror kami kembali. Yang terjadi malam ini lebih parah, di luar dugaan. Para hantu seperti ngamuk dan tidak terima.

Beberapa hari kemudian Ane mendapat saran bahwa untuk mengusir hantu, harusnya dengan bantuan orang pintar setempat atau orang pintar yang asli kelahiran daerah dimana terdapat ancaman hantu tersebut. didapatlah nama-nama orang pintar, orang pintar asli kelahiran daerah sini.

Suatu sore, Ane bersama anak dan istri, sedang berada di rumah salah satu sesepuh tempat kami tinggal, namanya Pak Maih. rata-rata orang di sini mengenal nama Pak Maih. Orangnya sudah cukup berumur tua tapi masih nampak gurat semangatnya. Selesai Shalat, Pak Maih membacakan doa-doa panjang. Mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam.

“Kenapa kamu ganggu keluarga ini?” begitu suara yang keluar dari mulut pak Maih yang kemudian dijawab sendiri dengan suara yang kali ini lebih berat dan serak.”Itu memang rumah tempat kami tinggal, apa salah kami?” demikian suara serak itu menjawab.
“Ya sudah, kamu dan teman-temanmu pindah dari sana” suara asli pak Maih.
“Siapa yang lebih dulu di sana? kami lahir dan besar di sana” demikian kira-kira sedikit percakapan monolog yang terjadi antara Pak Maih dengan “dirinya” sendiri. Intinya, para hantu itu nggak mau dipindah Gan. Kamipun hanya bisa pasrah. Lalu pak Maih bicara pada kami agar tidak lagi memindah atau mengusir makhluk-makhluk halus yang ada di rumah kami.
“Dipindahkan kemanapun, diusir kemanapun, mereka akan tetap kembali, entah untuk beberapa saat, entah untuk selamanya” kami diam. pak Maih melanjutkan bicara
“Ibarat tanah kelahiran kita, kemanapun kita merantau pergi, suatu saat akan rindu dan pulang lagi sekedar menengok atau kembali pulang ke rumah tempat kelahiran kita.”

Akhirnya kami pulang dengan perasaan lebih plong. Lega rasanya. biarlah hantu-hantu itu tetap datang-datang lagi nggak apa-apa, toh Pak Maih sudah berusaha mengungsikan mereka ke tempat yang jauh. kamipun bertekad untuk nggak peduli jika sewaktu-waktu para setan itu mendatangi rumah kami lagi. Kami bertekad, biarlah hantu-hantu itu tetap tinggal di rumag kami, yang penting kami tidak diganggu. Memang selama ini kami sangat ingin mengusir keberadaan mereka, ternyata malah nggak seperti harapan kami. Pada kenyataannya Omongan Pak Maih terjadi juga. Belum genap satu bulan sejak komunikasi kami dengan Pak Maih yang telah mengungsikan para hantu dengan damai, hantu-hantu laknat itu mulai bermunculan kembali.

Suatu malam, kebetulan Ibu mertua sudah bersama kami lagi, Beliau sengaja datang dari Jawa timur karena kangen pada cucu dan kasihan setelah mendengar cerita kami. Malam itu seperti biasa ane mengerjakan tugas-tugas dari kantor. Ohya Gan, ibu mertua ane ini tidur di kamar tengah yang ada jendela persis bersebelahan dengan ruang tempat ane biasa main komputer. Jadi dari jendela itu, bila kita berada di dalam kamar ini akan dapat melihat jelas keadaan ruang tengah. Tentunya bisa juga melihat siapapun yang sedang ngetik atau browsing di depan komputer di ruang tengah. Ibu mertua ane ini tiba-tiba lemas dan membiru. kami panik, tapi ane mahfum dengan apa yg mungkin telah terjadi. Siangnya Ibu mertua cerita kepada ane, pada ane sendiri. Kata ibu, setiap malam setiap ane duduk di depan komputer, ibu mertua juga melihat ane sedang mondar-mandir di ruang tengah. Bahkan tadi malam sosok yang menyerupai Ane masuk ke dalam kamar ibu Mertua ane sambil menatap tajam ibu mertua ane, Lalu membentak “Kamu pulang atau mati!” Ya. itu yang diucapkan sosok yang menyerupai ane persis, sambil tetap melotot. Akhirnya, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Ane setuju saja saat Ibu mertua Ane pulang sehari setelah adanya teror itu.

Kepulangan Ibu mertua Ane ke Jawa timur cukup membuat istri ane agak terguncang. Baru saja sedikit lega bisa menikmati hidup dalam kenyamanan bersama Ibu, kini harus kehilangan lagi, meski hanya untuk sementara saja. Tapi Ane tahu, hal itu sangat berpengaruh pada ketegaran istri Ane.

Tak terasa dua tahun lebih lamanya, anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat dengan kulit putih dan sorot mata tajam. Dia memiliki daya penglihatan ‘lebih’. Ia sering mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya. Mungkin karena terbiasa melihat kerumunan hantu, si kecil jagoan kami menjadi peka pada barang-barang yang kasat mata.

Tempo hari istri Ane sempat bercerita, dia bersama anak kami, menyetrika pakaian di Kamar pembantu. Pada saat istri ane asyik menyetrika, anak ane jalan-jalan sendiri keluar masuk kamar, kadang jalan, kadang dia berlari-lari kecil. Mungkin sudah capek, anak ane masuk lagi menemani ibunya. “Capek ya Ma..?” Tanya sikecil. “Iya nak..” Istri Ane menjawab sambil lalu, sekenanya saja. Lalu Anak ane nyeletuk dengan berkata “Ma.. Mama.. kenapa nggak minta bantu mbak itu saja?” begitu celoteh sikecil dengan suara cadelnya, sambil tangannya menggelayut ke tubuh ibunya.

“Gimana?” Tanya istri Ane kurang faham. Anak ane lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata “Itu Ma.. Kenapa nggak minta gosokin mbak itu saja?” Istri ane bergidik mendengarnya. Ia memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak kami. Bulu kuduknya semakin merinding, tapi ia tetap tabah.

Meskipun untuk hal-hal yang kasatmata ini istri ane kurang peka dan kadang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus, tapi dia termasuk pemberani untuk ukuran keberanian seorang perempuan. Kadang-kadang kalau Ane sedang dihinggapi rasa takut yang sangat, justru istri Ane lah yang seakan lebih menjadi berani dari Ane. dia bisa menjadi seorang Hero bila teman di sampingnya berubah menjadi lemah.

Beberapa anak tetangga teman bermain anak kami, sering datang ke rumah. usia mereka sebaya dengan usia anak kami. Memang menginjak usia hampir empat tahunan ini si kecil sengaja kami ajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal dengan teman sebayanya. Tapi sayangnya setiap kali teman-temannya bermain ke rumah, salah satu dari mereka pasti ada yang ketakutan dan cepat-cepat menjauh pergi. Jawaban anak-anak kecil itu selalu dengan menirukan gerakan loncat-loncat kecil seperti gerakan vampir dalam film china. Ach, tidak. Lebih mirip gerakan pocongkkkkkkkkkkkkk yang meloncat-loncat kecil. Akhirnya istri Ane lah yang lebih sering mengantar bermain anaknya ke rumah tetangga, daripada mendapati hal kejadian yang aneh.

Suatu hari, Ane belikan dia mainan Kolam renang dari karet seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Ane bahagia sekali melihat anak ane gembira. Paling tidak, ibunya tidak lebih tegang lagi. Pernah di suatu kesempatan anak kami berenang sendiri di dalam kolam renang plastik itu. Tak lama anak kami bermain air, tiba-tiba anak Ane kelihatan sangat pucat dan suhu badannnya panas tinggi, bahkan lama-lama seperti membiru. Tiga hari anak kami diopname di Rumah sakit Simpangan Depok. Hampir setiap waktu anak kami berteriak meminta pulang, sementara obat-obat dari dokter yang diberikan tak kunjung menurunkan panas tubuhnya.

Hilangnya Pak Rahmat secara di luar nalar membuat Ane penasaran. Beberapa hari kemudian Ane sengaja mendatangi lagi, mengurutkan dari awal sejak perjalanan dari rumah kami ke tempat Pak Rahmat. Rumah Pak Rahmat tetap tidak dapat ane temukan. Tidak puas dengan pencarian di rute yang sudah ada, ane menyusuri lagi jalanan di depan mata, tapi tetap nihil. Kemudian pencarian fakta ini ane lanjutkan dengan mendatangi Rumah sakit tempat dulu pertama kali kami berkonsultasi dengan Pak Rahmat.
“Alamatnya, ya kami tidak menyimpannya selain alamat itu Pak.” Kata Dokter Heny menjelaskan pada ane.
“Yang kami datangi itu tidak ada rumah lain selain Rumah tua itu Bu.” Kata Ane sedikit menekan suara untuk memberi efek penting pada kalimat yang ane sampaikan.
“Menurut Saya juga nggak jelas itu Pak Rahmat…” Kembali Dokter Heny.
“Maksudnya bagaimana Bu?” tanya Ane.
“Pak Rahmat datang sendiri ke sini, melamar sendiri untuk bekerja di Rumahsakit ini” menjelaskan, Dokter heny.
“O…” Ane membentuk bulatan di mulut.
“Pak Rahmat juga berhenti dari Rumah sakit ini dengan tanpa penjelasan apa-apa.” Ane terdiam, tak mampu mencerna lebih dalam tentang apa yang sedang kami bicarakan.

Ane pulang beberapa waktu kemudian. Penjelasan dari Dokter Heny cukup membuat Ane merasa tidak perlu mencari dan melacak Pak Rahmat lagi.  Pak Rahmat berhenti dengan tanpa mengajukan berhenti, tapi menghilang begitu saja Pak, tanpa pamitan-
Sepanjang perjalanan pulang, terngiang terus kata-kata Dokter Heny.

Sebuah tanya yang masih belum ada penjelasan sampai sekarang. Tapi Dua kemungkinan yang bisa Ane simpulkan dari kejadian itu mengenai Pak Rahmat. Pak Rahmat itu sebenarnya bukan manusia, tapi makhluk gaib yang mungkin saja tingkatannya di dunia pergaiban sudah tinggi, atau mungkin Pak Rahmat adalah makhluk gaib yang memiliki derajat tinggi sehingga bisa menjelma dan memanifestasikan diri secara langsung, menampakkan dirinya di dunia nyata. Kemungkinan yang kedua, Pak Rahmat itu memang benar-benar ada dan beliau adalah manusia biasa, tapi orangnya mungkin sembrono dengan pergi begitu saja saat bosan dengan pekerjaan, sedangkan yang kami temui di malam itu bukan Pak Rahmat yang sebenarnya.

Lalu siapakah yang kami temuai pada malam itu? Mungkin saja itu adalah jin yang memiliki misi tersendiri sehingga merasa berkepentingan dengan menampakkan dirinya kepada kami. Sudahlah, Ane sudah suntuk dengan rutinitas kerja yang sudah memakan separuh waktu ane setiap harinya, ditambah dengan berbagai intrik. Ane tak mau lagi semakin memberati beban otak ane. Yang penting, Ane selamat, anak istri juga selamat.

Anak kami sudah semakin bisa dikendalikan emosinya. Jika selama ini dia lebih sering mengusili teman-temannya, Pijar yang sekarang sudah mudah untuk dikendalikan dan mau mengerti keinginan dari orang-orang yang menyayanginya. Bulan berganti, tahun pun ikut berganti. Selamat pagi alam, selamat pagi kehidupan. Pagi yang jernih, Pagi yang suci. Matahari bersinar menyapu wajah sebuah kampung, Kampung Sindangkarsa. Udara segar yang dibawa angin padang Golf Emeralda membuat ketegangan Ane sedikit mengendur
Di sebuah pondokan beratap asbes sederhana, duduk empat orang dengan pakaian seadanya. Salah satu diantara mereka mengenakan sarung, sambil terus menghisap rokok kretek di tangannya. Hari ini hari libur, Ane bisa bebaskan sedikit beban dari rutinitas kerja. Setelah sekian lamanya waktu Ane banyak tersita oleh kekalutan dengan menurunnya penghasilan, semakin lama semakin drastis. Pak Narto memberitahu Ane, Pak Gimar sedang di pondokan. Pondokan Pemancingan Rohiman. Itulah yang menyeret langkah Ane ke pondokan sepagi ini. Laki-laki berkain sarung itu, namanya Gimar. Ane lebih sering memanggilnya dengan panggilan mBah Gimar. Bukan karena usianya yang sudah tua, tapi karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Melihatnya kehadirannya ini, Ane jadi teringat betapa dulu Pak Gimar cukup tangkas dalam “mengobati” Ratih, bekas pembantu ane yang saat itu kesurupan. Kata Pak Narto, mBah Gimar baru beberapa hari ini kembali ke Cimanggis, setelah lama dia pulang ke Sumatera.

“Bagaimana kondisi rumah Bapak sekarang?” Tanya pak Gimar, sambil matanya menatap Ane. yang lain terdiam, asyik menikmati hidangan singkong goreng dari pak Narto. Ane tidak langsung menjawab. Ane tergoda untuk menjajal sejauh mana Pak Gimar menebak suatu keadaan.
“Kelihatannya bagaimana Pak?” tanya ane kemudian.
“Banyak lagi sekarang penghuninya ya?” kata Pak Gimar, balik bertanya.
Akhirnya Ane ceritakan kejadian-kejadian penting setelah kepergian Pak Gimar.
Pak Gimar antusias mendengarkan setiap kata demi kata yang ane ucapkan. Kadang kepalanya menggeleng, kadang manggut-manggut. dari air mukanya kelihatan seolah sedang menerawang sesuatu.
“Bahkan HP Saya, dua-duanya hilang Pak, sampai sekarang tidak kembali!”Kata Ane mengakhiri penjelasan seputar kejadian-kejadian yang pernah muncul di rumah hantu.
“HP-hp itu sudah tidak bakal ketemu, tidak bakal kembali lagi.” Kata pak Gimar mendesis
“Tolong diambilkan deh Pak, Pak Gimar kan bisa menembus Gaib…” kata Ane berharap.
“Tidak bisa Pak, karena HP itu sudah menjadi Mahar” jawab pak Gimar, tegas.
“Mahar bagaimana pak?” tanya ane, tak mengerti. Pak Gimar mematikan rokoknya yang tinggal sejengkal, kemudian menyalakan lagi rokok yang baru. sejurus kemudian dia berkata. “HP-hp itu diambil karena dipandang sebagai mahar Bapak”
Ane semakin tidak mengerti dengan pembicaraan Pak Gimar tentang mahar ini.
“Begini ya Pak, dari berpuluh gaib di rumah itu, ada salah satu yang berwujud perempuan cantik.”
“Perempuan cantik?”
“Iya”
“Lalu bagaimana Pak?”
“Dia cinta sama Bapak dan menikah.”
“Menikah???”
“Menikah Bagaimana Pak? tolong jangan ngacau dong Pak”
“Dia sudah menikah dengan Bapak”

Bulu kuduk ane langsung meremang. Tak pernah terfikirkan ucapan seperti itu akan keluar dari mulut seorang Gimar.
“Saya tidak pernah pacaran atau ketemu dengan makhluk halus yang Bapak maksud, apalagi sampai menikah?” Tanya Ane lagi, sambil menahan galau di hati.
“Itu oleh makhluk gaib bisa dikatakan menikah secara batin. Maka dari itulah kita perlu berdoa sebelum kita berhubungan badan dengan istri. Salah satunya agar makhluk halus tidak bisa mengambil kesempatan”
DugGGhh !!! Jantung Ane berdegup, kencang. Ane terdiam.

Pak Gimar melanjutkan lagi. “Biar sekejap saja, makhluk halus bisa merasuk ke badan pasangan kita, dan itu dianggap mereka sudah menikah.” Ane semakin terdiam
“Tenang saja, Bapak tidak akan dirugikan…”
“Persetan pak, tolong Saya. Bagaimana caranya melepaskan diri dari itu?” Kata Ane kemudian.

Apa yang telah dikatakan Pak Gimar sangat membuat Ane schok dan menjadi beban fikiran ane selama berhari-hari. Selama ini tak ada keganjilan mengenai apapun yang ada hubungannya dengan apa yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Ketidakpercayaan Ane ini wajar karena Ane juga tidak pernah mendengar ada pernikahan yang hanya diakui secara sepihak, Makhluk halus pula yang mengklaimnya, entah benar entah tidak ucapan Pak Gimar ini. Akhirnya Pak Gimar mengatakan bahwa apa yang telah dialami tidaklah menjadi gangguan apa-apa, karena bukan keinginan dari manusianya untuk mencintai.
Ane tidak percaya dan tak akan pernah mempercayai hal itu. Ane tak bisa mengatakan hal yang telah membuat Ane murung itu pada Istri Ane. tak ada gunanya membicarakan omong kosong yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Biarlah hal itu Ane hadapi dan selesaikan sendiri omong kosong ini.

Beberapa minggu kemudian, ketika gerimis menaburi atap dengan suaranya yang berisik, Ane berada di suatu tempat, seperti sebuah taman besar. Tepat di taman itu terdapat sebuah kubangan besar yang menyerupai Kolam renang. Ane Hanya sendiri berada di dalam kolam renang itu. Air di Kolam renang itu hanya sedikit membasahi bagian kaki Ane, tidak sampai melewati batas mata kaki. Tapi dingin air ini cukup membuat ane menggigil dan tak ingin sedikitpun ane membasahkan air ini lebih lama, apalagi menyentuhkan bagian lain tubuh Ane. Pada sepanjang lekukan kolam renang yang luas ini banyak sosok manusia yang tidak menghiraukan gerimis yang ada, semua dengan kesibukan masing-masing seperti dalam sebuah tempat wisata. Tampak di sebelah kiri dan kanan orang-orang sibuk berjualan dengan nampan-nampan besar di hadapan mereka, sementara para pembeli hanya saling tunjuk dengan apa yang diingininya, dengan tanpa suara. Yang terdengar hanya suara angin, suara rintik hujan, dan suara hati Ane yang tak mengerti akan apa yang sedang mereka lakukan, akan apa yang sedang terjadi pada Ane.

Nyata sudah bahwa yang sedang berdiri di dalam kubangan basah ini hanya Ane sendiri. Tak ada siapa-siapa di kolam ini, selain Ane yang masih dengan seribu tanda tanya. Lalu Ane paksakan mendekat pada salah satu tepi kolam, melangkahkan kaki menuju garis tangga di depan Ane. Dengan pakaian yang mulai basah dan tubuh kelu oleh gerimis, ane hampir juga mencapai garis tangga itu, sekitar empat langkah untuk Ane bisa memanjat dan berlari menjauh dari kolam renang ini. Semakin mendekat garis tangga, semakin ane dapat melihat lebih jelas. Orang-orang itu, orang-orang itu… berwajah putih. Ya, mereka semua berwajah putih pucat. Pucat pasi, hanya bentuk oval di setiap lingkar luar pelupuk matanya saja yang mengurangi kepucatan wajah mereka. Ane tidak merasa takut, entah mengapa rasa takut itu tidak ada. Beberapa dari orang-orang itu seperti memperhatikan Ane, tapi Ane diam saja. Ane tidak tahu lagi apa yang harus Ane kerjakan. Ane terpaku di sana, diam. Ane baru merinding ketika tatapan mata Ane tertuju pada salah satu wajah pucat pasi, wajah laki-laki misterius. Mirip, sangat mirip. terlintas sebentuk Kucing besar berkelebat di pelupuk mata Ane, Ya. wajah laki-laki itu sangat mirip dengan orang yang berkali-kali Ane temui di sepanjang perjalanan Ane ke Bogor waktu itu, perjalanan mengerikan ketika motor Ane juga menabrak seekor kucing. Wajah orang itu telah membekas di otak Ane saking terlalu sering dia muncul pada malam ketika itu

Orang-orang berwajah pucat itu terus memperhatikan Ane, lalu serentak memalingkan pandangan dari Ane dan manatap kedepan ketika dari Kejauhan tampak berjalan dua Orang dengan berpakaian hitam satu orang Perempuan dengan langkah yang gemulai seakan melayang, posisinya tepat satu langkah di depan sebelah kanan lainnya, laki-laki yang juga berpakaian hitam. Pakaian mereka memiliki motif seperti ukiran dari bordir keemasan. Perempuan yang sangat teramat cantik itu terus melangkah, diiringi laki-laki di belakangnya.

Kemudian baru Ane sadari bahwa perempuan ini mengenakan penutup kepala yang tetap dapat memperlihatkan rambutnya yang indah, lebih menyerupai sebuah Mahkota keemasan. Mereka berhenti tepat didepan ane yang termangu dibawah kolam renang. Seperti ada kekuatan aneh yang membuat Ane melangkahkan kaki Ane ke depan. Si perempuan berwajah cantik ini mengulurkan tangan kanannya meraih tangan kiri Ane, sambil tersenyum. Melihat senyuman itu Ane merasakan sesuatu yang entah dimana dan merasa sudah tidak asing lagi dengan perempuan itu. Lalu dengan tetap meraih tangan kiri Ane, Dia memakainkan sebuah cincin bermatakan batu besar menyerupai Akik, dengan warna putih kecoklatan, besarnya menyerupai ibu jari dengan sebuah tulisan arab, seperti tulisan (Allah) Asma Allah yang sering Ane lihat dalam tulisan-tulisan di kertas maupun kitab.

“Saya seperti mengenal perempuan ini, tapi siapa?” kata hati Ane.
Seperti mengerti isi hati Ane, dia berucap
“Iya. Aku yang datang.. Aku…(dia menyebut sebuah nama besar yang sudah sangat terkenal di mitos kalangan jawa dan Sunda)”

Setelah cincin dipakaikan dan melingkari jari manis Ane, tiba-tiba Ane seperti tersentak oleh sebuah kekuatan dan tak mendapati pemandangan itu lagi, tapi Ane seperti terlempar dan terbaring di kamar utama Ane, sendirian. Tangan Ane meraba kedua kelopak mata Ane, ternyata Ane hanya bermimpi. Terlihat Jam di dinding menunjukkan pukul 2 dinihari. Ane baru ingat bahwa Ane benar-benar sendiri di dalam rumah ini, anak dan istri Ane sudah dua hari ini pulang ke kampung bersama Ibu mertua yang sengaja menjemput mereka beberapa hari yang lalu.
.
Hari-hari yang Kami jalani setelah itu adalah hari yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kesialan. Perlahan namun pasti bisnis-bisnis Ane mulai berjatuhan, bertumbangan dan banyak sekali masalah yang kami terima, entah sebab apa. Praktis Ane hanya mengandalkan segala sesuatunya hanya dari hasil kerja Pokok Ane. Ane mengalami pengkhianatan yang begitu besar. Ratusan juta melayang karena uang Ane dibawa lari orang yang telah Ane percayai, hingga usaha yang telah Ane rintis pun hancur dengan menyisakan hutang yang harus Ane tanggung sendiri. Jika saja Rumah dan segala perabotannya dijual semuapun tidak akan cukup untuk membayar jumlah hutang itu. Sedangkan Ane tak dapat berbuat apapun juga.

Orang yang telah mengkhianatii Ane itu lalu meninggal karena Bunuh diri. Ane hanya bisa pasrah, tapi pasrah yang bagaimana, Ane tak mengerti. Hari berganti minggu, berganti bulan… tahun ketiga ane bertahan Ane sudah nggak punya apa-apa lagi dan pintu-pintu rejeki ane seperti tertutup(diTutup?). Beruntung ane masih dilindungi Allah. Ane tetap bertahan, sampai tahun ke tiga ane tinggal disana dengan menanggung duka dan kepedihan. kami mempertahankan hidup seadanya saja. semua gaji langsung habis untuk mencicil hutang, beratus juta, tapi Ane bersyukur tidak sampai mati bunuh diri.

Ditengah kefrustrasian ane, istri ane mengajak ke seorang ulama yang cukup terkenal dan sering muncul di TV. dari sanalah akhirnya tepat tahun ke empat ane sekeluarga tinggal di rumah sialan itu, ane sedekahkan hampir semua barang-barang yang ane miliki dan hanya hanya sisa sedikit bekal untuk kami sekeluarga menempuh hidup baru setelah keluar dari rumah hantu. Rumah itu ane jual murah, hanya separuh harga dari saat ane membeli dulu. ane tidak berfikir untuk menjual lewat kaskus, karena meskipun ane sudah punya ID kaskus sejak tahun 2008 tapi ane tidak mengikuti. Rumah sengaja ane jual murah karena memang orang-orang sekitar juga sebagian sudah pada tahu kalau rumah itu berhantu. Ane mulai lagi semuanya dari Nol.

Alhamdulillah Semua hutang itu akhirnya bisa lunasi setelah ane keluar dari Rumah hantu itu.
Kini Ane menjalani hari-hari Ane bersama anak dan istri Ane, dengan usaha yang kami rintis dari nol lagi dan Ane lebih tenang dalam menjalani profesi Ane sebagai Anggota Pasukan Elit di Kepolisian.

Beberapa waktu yang lalu, kira-kira belum genap tiga bulan, ane ketemu dengan Pak Yusnadi, RT tempat tinggal ane dulu. Pak Yusnadi ini bercerita bahwa 3bulan semenjak transaksi jual beli rumah ane itu, Pak Abdul(Bukan nama sebenarnya) mulai menemui banyak kesialan. padahal dia orang yang sangat berada dan bahkan memiliki usaha semacam pabrik di luar negeri, Malaysia Tanah Pak Abdul bahkan berceceran di mana-mana. Rumah yang dibeli dari Ane itu tidak ditempati, tapi dibiarkan kosong begitu saja, Tapi entah mengapa Pak Abdul Ribut besar dengan keluarganya sendiri dan belum genap satu tahun Pak Abdul memiliki rumah itu, Pak Abdul meninggal dunia secara mendadak.

Ada orang yang bilang bahwa Pak Abdul meninggal karena serangan jantung, ada juga yang bilang bahwa kematiannya misterius. Sepeninggal ane dari Rumah itu, oleh istri Pak Abdul rumah itu dikontrakkan pada seorang pendatang, seorang ibu-ibu. Entah kebetulan entah karena faktor apa, si Ibu ini juga mengalami kesialan yang juga luar biasa. Usaha yang dia rintis di rumah itu selalu mengalami kebangkrutan. Bahkan dia …

Selain dengan diperlihatkannya makhluk yang sering turun dan naik ditangga, Si Ibu ini juga mendapat teror dalam bentuk lain, termasuk usahanya. Berkali-kali buka usaha selalu berakhir dengan kebangkrutan.

Mendengar cerita Pak RT ini, ane merasa bersyukur dengan melepas Rumah hantu itu. Rumah yang sering hampir membunuh Ane karena keanehan dan pengaruh aura negatifnya.

Dengan wajah yang seperti diliputi rasa takut, pak RT melanjutkan ceritanya. “Rumah itu nggak hanya terdapat 3 buah makam di bawahnya, tapi 13” dari ingatan para sesepuh. Beberapa dari makam/kuburan itu sudah ada sejak jaman Jepang. Ada nada sesal ketika Pak RT mengucapkan kalimat itu, seperti ingin menarik kembali ucapannya tapi tidak bisa.
“Lalu bagaimana dengan kesepuluh makam yang masih ada itu Pak?” Tanya Ane.
“Makam itu masih tetap ada di sana, tidak bisa dipindahkan.” Kalau memindahkan jasad-jasad itu berarti harus membongkar total rumah itu karena letak makam-makam itu persis di bawah pondasi rumah”.

Tergambar nada ketakutan dari mimik muka Pak RT yang kelihatan menegang. seperti ada desiran aliran darah yang membuat ane bergidik, ngeri. Tak pernah terbayangkan bahwa selama ini kami, tinggal di Rumah yang berhantu, dengan kuburan yang tidak hanya 3, tapi tigabelas makam di bawahnya.

“Pak RT, ada sosok perempuan dengan wajah dan tubuh berlumuran darah di rumah itu..” Ane kembali memancing pembicaraan dengan Pak RT. “Iya, benar. di sana pernah ada yang kecelakaan, seorang perempuan yang kecelakaan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, di depan rumah itu” Menurut teman saya yang mengerti, ibu itu mati penasaran” Jlebbh..!! kembali, bulu kuduk ane meremang.

“Lalu kenapa Lampu-lampu yang kami pasang selalu tidak awet?”
“Sudah dari sananya… Bahwa Lampu atau lilin yang dinyalakan di atas kuburan itu dilarang, dan akan selalu cepat mati/tidak awet. Dan lagi pula, para dedemit, hantu blau, setan peri prahyangan tidak suka dengan keadaan terang”

Ane pandangi Rumah itu, rumah dengan kiri kanan kesunyian. Dindingnya seperti menyiratkan senyuman sinis dan kemanangan. di sebelah kanan rumah itu, yang dulunya kosong, tetap kosong. Di sebelah rumah kosong itu, sekarang sudah ada penghuninya, seorang penghuni baru. pemilik lama pindah dan dibeli oleh orang baru, seorang Batak. Tapi di seberang rumah itu, yang dulu terdapat Rumah besar tapi dibiarkan kosong, sampai sekarang tetap kosong. Bayangan hitam atapnya yang menjulang tinggi akan selalu melemparkan kengerian bagi orang yang melihatnya di waktu malam. Ane bergidik, ngeri ketika melewati tanjakan di depan bekas rumah Ane, yang telah membawa korban kecelakaan berkali-kali dari sejak Ane belum tinggal di sana sampai setelah ane pindah.

Angin padang Golf merayapi pori-pori kulit tubuh Ane, terasa dingin seperti melepaskan kerinduan pada pertemuan setelah sekian lama terpisah. Ane suka dengan sejuknya anginmu, ane suka dengan kesunyian dan dingin hawamu di waktu malam. Tapi ane tak ingin hidup tergadai oleh rasa takut yang berkepanjangan, selamat tinggal Rumah hantu, selamat tinggal kesunyian, selamat tinggal kesialan. Kuingin kau menjadi doa bagiku, doa untuk ketenangan dan ketentraman di harihari kedepan yang harus ane lalui, bersama anak-anak Ane, bersama istri Ane yang setia, sampai hari tua nanti.

(tamat)


2 Komentar on “4 tahun Tinggal di Rumah Hantu”

  1. agus mengatakan:

    sangat panjang kisah perjalanan anda pak,,,,ak jadi merindingg,

  2. koembar mengatakan:

    seru pa cerita’a. kebetulan ane juga tgl didpok tapi ane Baru tau skarang. emang si turunan sindangkarsa tu klo lwat Mlm Yahut Deh serem’a Ajib……… Mrinding ane ngebaca crita ente Pak………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s